LIGA335 – Kepergian dalang kondang Ki Anom Suroto meninggalkan duka yang mendalam bagi berbagai kalangan di Solo Raya. Tidak hanya keluarga dan kerabat dekat, kehilangan sosok maestro pedalangan ini juga dirasakan oleh para seniman, tokoh masyarakat, hingga politisi daerah.
Dari dunia seni, ucapan belasungkawa datang dari pelawak senior Muhammad Syakirun alias Kirun. Pelawak asal Ngawi, Jawa Timur, ini terlihat hadir sejak pagi di rumah duka, saat jenazah Ki Anom Suroto tiba dari RS Dr. Oen Kandangaapi, Solo. Kirun dikenal sangat dekat dengan almarhum dan keluarganya sejak lama, bahkan sebelum namanya dikenal luas. Ia kerap diajak pentas bersama Ki Anom Suroto di berbagai lokasi, termasuk setiap pagelaran wayang kulit Rabu Legi di Kebon Seni Timasan, Kartasura.
Saat tiba di rumah duka, wajah Kirun tampak sembab. Tangisnya pecah ketika melihat jenazah almarhum di dalam peti. “Pak Anom itu tidak bisa dilihat dengan mata, tak bisa ditulis dengan tinta, bisanya ditulis dengan seni budaya. Beliau seperti sumur, artinya banyak orang menimba air dari sumur itu,” ungkap Kirun dengan penuh haru.
Seniman muda dan pelawak Erik Estrada juga menyampaikan duka mendalam. Ia mengaku cukup dekat dengan Ki Anom Suroto selama setahun terakhir dan merasa seperti anak angkat almarhum. Erik menambahkan, almarhum memiliki visi besar untuk mendorong seniman lokal Solo agar bisa berprestasi di jenjang lebih tinggi.
“Pak Anom ingin membuat film tentang kultur dalang. Saat ini sedang dalam tahap pengerjaan bersama Mas Bayu Aji Pamungkas sebagai sutradara dan produser. Semoga proyek ini bisa terealisasi dan diluncurkan tahun depan,” ujar Erik.
Duka juga dirasakan oleh kalangan politisi. Muhammad Toha, anggota DPR RI F-PKN asal Sukoharjo, mengungkapkan kenangan pribadi bersama almarhum. Sosok Ki Anom Suroto dikenal menjunjung tinggi seni budaya dan selalu bersikap bijak. “Beliau adalah orang yang baik, akhlaknya mulia. Bahkan ketika ada konflik di dunia pedalangan, beliau tetap menenangkan dan memaafkan,” ungkap Toha.
Selain itu, politisi PDIP dan mantan Wali Kota Solo, FX Hadi Rudyatmo, mengenang kiprah Ki Anom Suroto dalam menyatukan seluruh seniman pedalangan dan para pengerawit. “Semua tidak akan lupa dengan karya Ki Anom Suroto. Saya merasa sangat kehilangan tokoh dengan prestasi luar biasa,” pungkas Rudyatmo.
Jenazah Ki Anom Suroto meninggal pada Kamis (23/10) pukul 07.00 WIB dan diberangkatkan dari rumah duka Kebon Seni Timasan, Desa Makamhaji, Kecamatan Kartasura, Sukoharjo pada pukul 15.30 WIB. Almarhum dikebumikan di Pemakaman Keluarga Depokan, Juwiring, Klaten.
Perjalanan hidup dan karya Ki Anom Suroto akan selalu dikenang sebagai inspirasi besar bagi dunia seni budaya Solo Raya dan Indonesia.
Sumber: bisnispasti.id