LIGA335 – Di tengah ketidakpastian ekonomi global yang semakin meningkat pada Oktober 2025, nilai tukar rupiah menunjukkan ketahanan yang luar biasa. Fluktuasi harga komoditas, ketegangan geopolitik, dan kebijakan suku bunga tinggi dari bank sentral Amerika Serikat (The Fed) tidak menggoyahkan stabilitas mata uang nasional. Keberhasilan ini tidak terlepas dari strategi cermat yang diterapkan oleh Bank Indonesia (BI) dalam menjaga keseimbangan moneter dan kestabilan makroekonomi.
Kondisi Ekonomi Global yang Penuh Tantangan
Tahun 2025 menjadi periode penuh tekanan bagi ekonomi dunia. Beberapa faktor utama yang memicu volatilitas pasar global antara lain:
-
Kenaikan suku bunga global yang menekan arus modal ke negara berkembang.
-
Harga energi dan pangan yang berfluktuasi tajam akibat konflik geopolitik di Timur Tengah dan Eropa Timur.
-
Perlambatan ekonomi Tiongkok yang berdampak pada perdagangan internasional dan ekspor komoditas Indonesia.
Namun di tengah kondisi ini, rupiah justru mampu mempertahankan stabilitas di kisaran Rp15.400–Rp15.600 per dolar AS sepanjang Oktober 2025.
Strategi Bank Indonesia dalam Menjaga Stabilitas Rupiah
Bank Indonesia menjalankan strategi moneter berlapis untuk merespons dinamika ekonomi global tanpa menghambat pertumbuhan domestik. Beberapa langkah penting yang dilakukan antara lain:
1. Intervensi Terukur di Pasar Valas
BI aktif melakukan intervensi ganda di pasar valas dan Surat Berharga Negara (SBN) guna menstabilkan nilai tukar. Langkah ini membantu meredam gejolak yang dapat memicu kepanikan pasar.
2. Kebijakan Suku Bunga yang Adaptif
Melalui Rapat Dewan Gubernur (RDG) Oktober 2025, BI mempertahankan suku bunga acuan di level 6,25%, dengan alasan menjaga keseimbangan antara stabilitas nilai tukar dan kelanjutan pemulihan ekonomi domestik.
3. Penguatan Cadangan Devisa
Cadangan devisa Indonesia meningkat menjadi USD 143,2 miliar, cukup untuk membiayai 6,8 bulan impor. Angka ini memperkuat kepercayaan investor dan menjaga ketahanan eksternal negara.
4. Sinergi Kebijakan dengan Pemerintah
BI juga memperkuat koordinasi dengan Kementerian Keuangan dalam mengelola inflasi, mempercepat belanja produktif, serta menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional.
Dampak Positif terhadap Ekonomi Nasional
Kestabilan rupiah memberi efek domino positif terhadap berbagai sektor ekonomi. Harga bahan pokok relatif terkendali, kepercayaan investor meningkat, dan ekspor tetap kompetitif.
Selain itu, pasar modal Indonesia menunjukkan tren positif dengan indeks IHSG menembus level 7.300, menandakan optimisme pelaku pasar terhadap prospek ekonomi nasional.
Tantangan ke Depan
Meski situasi saat ini relatif stabil, Bank Indonesia masih menghadapi sejumlah tantangan besar, seperti:
-
Potensi kenaikan suku bunga lanjutan The Fed yang bisa menekan nilai tukar rupiah.
-
Ketidakpastian harga minyak dunia.
-
Risiko arus modal keluar (capital outflow) akibat perubahan sentimen global.
Untuk itu, BI menegaskan komitmennya menjaga keseimbangan antara stabilitas dan pertumbuhan, dengan tetap mengutamakan kebijakan yang prudent dan adaptif terhadap dinamika global.
Stabilitas rupiah di tengah gejolak ekonomi dunia pada Oktober 2025 menjadi bukti nyata efektivitas strategi moneter Bank Indonesia. Melalui kombinasi intervensi pasar, pengelolaan suku bunga yang bijak, serta sinergi kuat dengan pemerintah, BI berhasil menjaga kepercayaan publik dan investor.
Dengan kebijakan yang konsisten dan adaptif, Indonesia memiliki peluang besar untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi di tengah badai global yang belum mereda.
Sumber: bisnispasti.id